Web Suka-Suka Translate Light Novel dan Web Novel

Sabtu, 16 Juni 2018

My Entire Class Was Summoned to Another World Except for Me Chapter 08 - Bahasa Indonesia


Chapter 08 - Hadiahnya Adalah Ramen

Setelah memeriksa ruang kelas, entah mengapa aku merasa sedikit khawatir dengan suasana yang ada di sana.
Uwa… ada apa dengan suasana hati ini?
Aku  senang aku tak berada disana, jika aku masih berada didalam kelas itu, aku pasti akan menyingkirkan salah satu teroris itu. Bagaimanapun juga, aku tak menyukai suasana yang menyusahkan.
Saat pikiranku melayang ke dalam lamunan, membayangkan situasi saat itu, tiba – tiba ponsel di sakuku berdering. Melihat nama Ishida Tesuji di ID pemanggil, aku langsung mengangkatnya.
“Pak tua, ada apa?”
“Sekarang kami sudah berada di depan sekolahmu.”
“Aku tahu. Aku bisa melihatmu dari sini.”
Aku mengatakannya ketika aku berbalik untuk melihat beberapa mobil patroli di luar. Aku bahkan bisa melihat pak tua yang berbicara melalui telpon dari atas sini.
“Apa maksudmu? Dimana kau sekarang?”
“Atap.”
Tepat ketika aku mengatakannya, lelaki tua itu mendongak ke atas; segera saja mata kami saling bertemu. Ketika dia sudah mengetahui posisiku, aku dengan ringan melambaikan tanganku. Menyadari itu adalah aku, lelaki tua itu tersenyum pahit. Ada apa dengan wajah itu?
“Kau… dalam situasi seperti ini, bagaimana kau… beruntung, itu bukan masalahnya sekarang. Lebih penting lagi, siapa gadis imut yang ada di sampingmu? Pacarmu?”
“Bukan! Dan juga untukmu, apa yang kau ingin tanyakan dariku dalam situasi seperti ini? Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan di pihakmu?”
Karena pertanyannya tentang kamaishi kemungkinan akan merepotkan, aku memutuskan mengubah topik pembicaraan.
“Ah, kami saat ini dalam proses negosiasi dengan teroris,  akan tetapi kelihatannya mereka meminta sebuah helikopter untuk melarikan diri. Mereka mengancam akan membunuh seorang sandera setiap tiga jam.”
Jadi mereka membutuhkan helikopter.
“Apa kau sudah tahu tujuan mereka? Tentang hal apapun yang mereka siapkan?”
Begitu aku bertanya, lelaki tua itu tampak kesal.
“Tentang itu, aku sedang melakukan yang terbaik disini untuk memperpanjang negosiasi sementara aku mengirim beberapa unit untuk mengepungnya. Tapi orang – orang ini bukan sekelompok amatiran. Kami tak akan membiarkan mereka pergi begitu saja, dan saat ini kami tak bisa bergerak sampai kami tahu dengan pasti jumlah dan posisi mereka.”
Kedengarannya lelaki tua itu terlihat mengeluh, tapi begitu dia selesai, dia melirikku dengan cara yang aneh.
“Aah… Aku ingin tahu apakah ada seseorang yang bisa membantuku. Seorang yang bisa tahu jumlah musuh dan lokasinya… Oh, dan jika seseorang itu bisa mengalahkan mereka, itu akan lebih bagus.”
“Hentikan…”
Apa yang pria tua itu harapkan dengan mengatakan semua itu? Siapa yang akan melakukan hal yang merepotkan ini?
Mengapa dia menambahkan lagi, semakin bertambah banyak, hal-hal yang dia ingin aku lakukan?
“Hanya untuk membuatku bebas di sini, aku tak akan melakukan apapun untukmu.”
“Eeeeh, ayolah. Kau pasti bisa melakukannya dengan kemampuanmu itu.”
Ugh. Berhenti berpura-pura telihat seperti anak kecil. Betapa tak dewasanya dirimu. Tentu saja yang dia maksud adalah skill yang kumiliki. Dia tak sengaja melihatku menggunakannya ketika polisi yang tak bosan-bosannya mengintrogasiku. Awalnya, aku berpikir untuk menghapus ingatannya, tetapi aku berubah pikiran setelah menyaksikan reaksinya.
‘Apa ini? Sebuah trik sulap?’ aku ingat saat dia bertanya padaku.
Sejujurnya, aku pikir dia akan ketakutan setelah melihatnya, namun, reaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya membuatku sedikit terkejut. Sejak saat itu, aku membuat kesepakatan dengannya untuk tidak membocorkan rahasiaku sebagai imbalan atas aku yang sesekali membantu pekerjaannya.
Karena itu, aku sekarang punya koneksi langsung dengan polisi yang membuatku cukup nyaman. Jika aku tertangkap atau ditangkap, aku hanya perlu menghubunginya dan semua masalah akan beres tanpa perlu menonjokan diriku. Itu adalah hubungan yang saling menguntungkan. Tentu saja, jika suatu hari dia mengingkari janjinya, aku akan selalu bisa menghapus ingatannya.
“Baiklah? Tak apa-apa, ’kan? Hajar saja menggunakan kemampuanmu. Tentu saja, kau harus membuatnya terlihat wajar.”
Pria tua ini semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Apa yang dia pikirkan tentangku? Dewa atau semacamnya, kah? Tak peduli seberapa kuatnya aku, aku tak bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Yah, sebenarnya aku bisa melakukannya…
“Aku tak mau. Aku tak ingin bekerja secara gratis.”
“Aku mengerti. Kali ini aku akan meneraktirmu ramen. Bagaimana?”
Dia akhirnya mengeluarkankan kartu andalannya. Tapi tetap saja, bagaimana bisa ramen menjadi hadiah kerena mengusir teroris? Itu terlalu murah!
“Biar kukatakan ini, bagaimapun juga, ini bukan ramen biasa seperti yang kau bayangkan. Itu adalah ramen ‘MENMEN’ yang muncul di TV.”
Aku berhenti sejenak. “MENMEN”, ya? itu adalah ramen yang disiarkan di TV berkali – kali, sampai ke titik dimana, itu membuatku berpikir kalau aku harus mencobanya hari itu juga. Aku menghabiskan beberpa detik memeras otakku dengan perbandingan dan membandingkan antara ramen dengan permintaan yang merepotkan dan;
“…Aku hanya akan membebaskan para sandera, apakah sudah puas?”
“Benarkah!? Bagaimana dengan syaratmu?”
“Ramen dengan tambahan telur goreng. Dan untuk servis keduanya, aku ingin Gyoza.”
“Ha! Apa kau tak minta terlalu banyak? Ini sudah hampir hari gajian, dan kau sudah menghabiskan uangku disini.”
“Aku tak keberatan jika kau menolak.”
“Ggu…. Baiklah.”
“Baik. Aku akan melakukannya. Aku akan menghubungimu lagi setelah aku selesai.”
Aku menutup telpon sambil mendesah. Pada akhirnya, kesepakatan adalah kesepakatan, meskipun itu menyusahkan.
“Kamiya-kun, apa yang kau bicarakan di telpon?” Tanya Kamaishi
Ah, sial. Aku lupa dia di sebelahku. Aku harap dia tak mendengar terlalu banyak.
“Ah… Aku diminta untuk melakukan sesuatu. Maaf, aku harus persi sekarang. Kau tetaplah disini Kamaishi-san.”
Meninggalkan kata – kata itu, aku meninggalkan atap, menuruni tangga dan menuju ke bagian dalam sekolah.
“Eh, tunggu!? Kamiya-kun!?”
Kamaisihi membuka pintu lagi untuk mengikutiku, tapi aku sudah tak ada lagi. Aku merasa tak enak, tapi aku harus menggunakan skill teleportasi untuk berpindah ke bagian tengah sekolah.
“Baiklah, demi ramen, haruskah kita memulainya?”




1 komentar: