Web Suka-Suka Translate Light Novel dan Web Novel

Rabu, 13 Juni 2018

My Entire Class Was Summoned to Another World Except for Me Chapter 05 - Bahasa Indonesia


Chapter 05 – Masakan Kamaishi Enak

“Ayo makan!”
“Ya.”
Diatas atap, Kamaishi dan aku mulai memakan bekal makan siang kami. Angin musim semi yang hangat bertiup dari waktu ke waktu, menjadikan waktu yang tepat untuk makan. Mengenai kenapa kami memilih atap? Yah, karena Kamaishi agak malu terlihat makan bersamaku. Untungnya, tak ada orang lain disini saat kami datang. Saat kami duduk di bangku kayu, kami membuka kotak makan siang kami.
“Kamaishi-san, keliatannya makananmu enak. Apakah kau membuatnya sendiri?”
“Ehehe, benar. Aku membuatnya dirumah.”
Fried Chickens, Tamagoyaki, Brokoli, dan masih banyak lagi. Hanya melihat sekilas bekalnya membuat air liurku menetes. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang bisa memasak.
“Karena ibuku sepanjang waktu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, setiap hari aku mengatikannya membuat makanan.”
“Itu mengesankan.”
“Apa kau mau mencobanya?”
Sambil mengatakannya, Kamaishi mengambil tamagoyaki dengan sumpitnya dan mengarahkannya ke mulutku.
“Kau yakin?”
“Ya, aku tak makan banyak. Jangan hanya diam dan silahkan dicoba.”
Kamaishi membawa tamagoyaki lebih dekat lagi, dan aku tak bisa berhenti berpikir tentang apa ini, atau mungkin yang bisa terjadi. Aku tentu saja senang mencicipi masakannya, tapi bukankah ini terlihat seperti ciuman tidak langsung?
Aku muali ragu-ragu, pandanganku beralih antara Kamaishi dan tamagoyaki. Maksudku, aku tahu Kamaishi. Aku mengenalnya dengan baik, karena itu dia mungkin bahkan tak memikirkannya, Airhead sangat menakutkan, tapi tetap… (TL/N : Airhead, Maksudnya orang konyol dan bodoh.)
*Gulp*
“Baiklah kalau begitu, akan kucoba.”
Aku membuka mulutku dan membiarkan tamagoyaki melewati bibirku.
“…hmm. Ini sangat enak.”
“Benarkah?”
“Ya, rasanya setingkat dengan masakan ibuku.”
“Apakah begitu. Ngomong-ngomong, apa yang ibumu lakukan?”
“Ibuku seorang peneliti masakan.”
“Hmm… tunggu… Eeeh!?”
Aku tahu kenapa dia begitu terkejut. Ibuku, Kamiya Shiori, seorang peneliti masakan, karena penampilannya yang tergolong masih muda dan karena pekerjaannya, ia sering muncul di TV. Tak perlu disebutkan bahwa keterampilan kulinernya sangat bagus dibandingkan dengan yang rata-rata, membuatku, orang yang memakan masakannya setiap hari, sedikit terlalu pilih-pilih jika menyangkut masalah selera, tapi bagiku untuk menguji kemampuan memasak Kamaishi seperti ini, itu berarti ia juga pandai memasak. Faktanya, ayahku adalah seorang prosuder TV yang bertemu ibuku untuk pertama kalinya di tempat kerjanya. Mereka tampaknya menghabiskan waktu romantis untuk berkerja bersama.
“Kamiya-kun, aku tak menduga ibumu orang yang terkenal.”
“Ya, tapi aku pikir kau juga bagus karena dapat membuat masakan seenak ini.”
“I-itu tidak benar~”
Kamishi menjawab dengan nada suara rendah sambil tersipu.
“Apa kau mau mencicipi punyaku?”
“Eh? Apa tak apa-apa?”
“Yap, aku ingin membalas kebaikanmu.”
Aku mengambil tamagoyaki dari kotak bekalku dan mengarahkannya ke mulut Kamaishi.
“T-tapi, aku merasa tak enak…”
“Ayolah, makan sebelum terlambat. Kau pasti penasaran dengan masakan tangan ibuku, ‘kan?”
Masakan seorang peneliti makanan. Mungkin karena tertarik, Kamaishi menelan ludahnya, dan tak lama kemudian, dia membuka mulutnya dan mendekat.
“B-baiklah kalau begitu…”
Dan dia mulai menggigitnya.
“Mhm mhm… rasanya enak.”
“Ya kan?”
Bahkan jika aku mengatakannya sendiri, masakan ibuku memang sangat enak dan kami makan siang bersama, bersenang-senang sambil membicarakan hal-hal yang berbeda.
ーーーーーーーーーーーーーー
Bahkan setelah semua bekal kami habis, kami tetap duduk di bangku. Panas dari matahari terasa hangat dan membawa suasana hati yang ideal untuk tidur siang setelah selesai makan.
“Fuaah~ aku semakin mengantuk.”
“Kau masih ingin tidur setelah semua waktu yang kau habiskan untuk tidur di kelas?”
Kamaishi menanyaiku dengan ekspresi sedikit terkejut di wajahnya.
“Kita masih ada kelas sore. Akankah kau baik-baik saja tidur melewatinya?
“Jangan khawatir, aku bisa melakukannya.”
“Kenapa kau begitu sangat percaya diri…?”
Kamaishi sepertinya bertanya-tanya tentang bagaimana aku bisa tidur begitu lama, tapi dia tak tahu kalau aku mengunakan semacam teknik rahasia. Tak masalah buatku. Baiklah mari kita tidur nyenyak sore ini.
ーーーーーーーーーーーーーー
(POV Orang ketiga)
Pelajaran sore telah dimulai, dan pada saat yang sama, Kamiya mulai mendengkur. Penjelasan sensei bagaikan musik latar yang enak, membiarkannya tidur nyenyak.
“Baik, Kamiya, coba selesaikan soal ini.”
“Ggu…”
“Hei, Kamiya, bangun!”
“Ggu…”
“Bangun!!”
BAM!!
“…Nnha!”
Kamiya meringis saat dia menggosok kepalanya, melihat buku teks yang dipegang sensei untuk memukulnya.
“Kau punya keberanian untuk tidur di kelas, terutama setelah sekolah dimulai beberapa hari yang lalu, bukan? Aku berasumsi, itu berarti kau yakin sudah paham tentang materinya? Aku kira kau bisa menyelesaikan soal itu.”
Sensei itu tampak marah ketika dia menunjuk ke papan tulis, Kamiya menatap pada persamaan dipapan tulis, dan dalam beberapa detik dia melanjutkan berbicara.
“Jawabannya adalah 3.”
“Itu… Itu b-benar.”
Sensei terbatuk, ketika dia mengkonfirmasi jawabanya. Tapi ketika Kamiya akan menundukkan kepalanya, sensei memanggilnya lagi.
 “Tunggu, Kamiya. Coba selesaikan soal no 03 halaman 05 di buku pelajaranmu.”
“Jawabanya adalah 8.”
 “Uh… Benar, lagi.”
Tampaknya Kamiya tak mendengar teman sekelasnya berseru riang gembira, seolah-olah mereka tengah mengolok-olok sensei. Tentu saja itu tidak benar. Ini semua rencana Kamiya. Ketika dia naik level, bukan hanya statusnya yang berkembang, tetapi juga keterampilan yang berbeda. Kekuatan serangan, pertahanan, dan tentu saja, kecerdasannya, yang memungkinkannya menghafal seluruh buku pelajaran hanya dengan membacanya. Dengan ini, dia bisa lelap tidur tanpa dimarahi sensei dan begitulah dia jatuh tertidur, mengabaikan wajah miring gurunya.
ーーーーーーーーーーーーーー
(Kamaishi POV)
Hari pertama sekolah sudah berakhir. Saat ini, aku sedang menuju apartemen dimana aku tinggal  bersama ibuku.
“Aku pulang.”
“Selamat datang kembali, Sayaka. Bagaimana sekolahmu baru-baru ini?”
“Aku pingsan karena anemia, tapi aku bersenang-senang setelah itu.”
“Kau pingsan? Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, seorang teman sekolah membantuku, dan aku merasa baik-baik saja.”
“Jika kau bilang begitu, aku merasa lega. Makan malam hampir selesai, jadi taruh barang-barangmu dan cepatlah.”
“Aku mengerti. Aku akan kembali setelah berganti pakaian.”
Setelah aku berbicara denga ibuku, aku bergegas menuju kamarku, meletakkan tasku di lantai dan melompat ke atas tempat tidur.
Hanya dua hari setelah sekolah dimulai, tetapi banyak hal yang terjadi….
Ketika aku memikirkan hal itu, aku mulai mengingat apa yang terjadi sampai sekarang.
Pingsan karena kesehatanku yang buruk.
Diselamatkan oleh Kamiya.
Makan siang dengan Kamiya.
Bersenang-senang berbicara dengan Kamiya
Tunggu lebih dari setengahnya adalah tentang Kamiya! Ketika aku melambaikan kakiku dalam peregangan, keraguan tiba-tiba muncul dipikirannya.
Aku bertanya-tanya, kenapa aku baik-baik saja saat aku bersamanya.
Karena serangkaian kejadian, aku menjadi buruk dalam berurusan dengan anak laki-laki. Aku bahkan tak dapat melihat mata mereka, apalagi berbicara pada mereka. Jadi bagaimana dengan Kamiya? Kalau dipikir-pikir lagi, aku bisa berbicara dengannya seperti biasa sejak pertemuan pertama kami.
“Mungkinkah… aku menyukainya… Kyah!! Apa yang kupikirkan?!?!”
Aku membenamkan wajahku di bantalku dan menjatuhkan diriku di tempat tidur. Sangat memalukan mengatakannya dengan keras. Beberapa saat setelah menenangkan diri, aku ingat saat ketika aku mencicipi kotak makan siangnya. Itu sangat lezat. Haruskah aku mengatakan seperti yang diharapkan dari keterampilan memasak seorang peneliti masakan? Suatu hari aku ingin bisa memasak lebih baik lagi. Hm? Tunggu sebentar, kalau dipikir-pikir.
Itu adalah cuiman tidak langsung?!
Kyah!!! Apa yang kupikirkan ketika aku melakukan itu?! sambil memikirkan itu aku mengubur wajahku di bantalku, berguling-guling dalam kepanikan. Apa yang harus kulakukan? Apa mungkin dia menganggapku aneh? Aku yang didorong kegelisahan seperti itu, tetapi segera, aku mengumpulkan ketenanganku dan melanjutkan pikiranku.
“Dia sungguh luar biasa… dalam banyak hal.”
Seperti bagaimana dia bisa tidur dikelas sampai tengah hari setelah menyelesaikan perkenalannya, atau bagaimana ibunya adalah orang yang terkenal, dan  dia terlalu cerdas untuk orang yang menghabiskan sebagaian waktunya untuk tidur.
“Aku… akan mencoba berbicara dengannya lagi besok…”
Aku berkata pada diriku sendiri dikamarku.



1 komentar: