Web Suka-Suka Translate Light Novel dan Web Novel

Senin, 23 Juli 2018

Konjiki no Wordmaster Chapter 178 - Bahasa Indonesia


Chapter 178 – Teman Yang Penuh Perhatian

“Sekarang kau mengerti kalau itu bukan hanya karena perbedaan level diantara kita. Jadi, sampai jumpa, aku pergi.” (Rarashik)
Setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia meninggalkan Shublarz yang kalah dalam pertarungan tanpa berkata yang lainnya.
“Fufu, sungguh menyedihkan~, meskipun penampilannya tampak seperti seorang peneliti muda yang mungil, gerakannya adalah gerakan alami dari seorang prajurit. Sungguh teladan yang buruk~” (Shublarz)
Dengan pikiran seperti itu dalam benaknya, Shublarz melihat punggung Rarashik yang mulai menjauh di kejauhan, dan mengangkat bahunya tanpa daya.
“Baiklah, aku yakin kita juga harus segera pergi. Kita harus melaporkan ini pada Yang Mulia~” (Shublarz)
Mungkin karena dia kalah dalam pertarungan, Shublarz memiliki ekspresi suram berpikir apakah dia masih bisa mempertahankan harga dirinya.
“A-Ah, T-Tolong tunggu sebentar!” (Muir)
Muir mengangkat suaranya pada kelompok Shublarz yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.

“Mungkinkan ada yang bisa kami bantu?” (Shublarz)
“Ah, um… ini tentang... Io-chan.” (Muir)
“Eh? Ionis?” (Shublarz)
Shublarz mengalihkan perhatiannya pada Ionis sebagai tanggapan atas perkataan Muir.
“Ah, sekarang kau sudah mengatakannya. Err...  kau adalah atasan yang bertanggung jawab atas anak itu, ‘kan?” (Arnold)
Arnold bergabung dalam percakapan mereka.
“Y-Ya, ya itu aku, apakah ada sesuatu yang salah?” (Shublarz)
Arnold mulai menjelaskan kepada Shublarz kalau Hiiro bisa menyembuhkan bekas luka bakar yang ada di wajah Ionis.
“Eh? Hiiro-kun bisa memulihkan kembali bekas luka lama menjadi seperti sedia kala?” (Shublarz)
Meskipun Shublarz telah menyaksikan kejadian, diamana luka Demond Lord Eveam yang disembuhkan Hiiro sebelumnya, dia berpikir bahwa Hiiro hanya mampu menyembuhkan luka yang terjadi saat ini.
Namun, dia secara sepihak menilai bahwa kekuatan Hiiro tidak akan ada pengaruhnya pada luka yang terjadi di masa lalu, atau lebih tepatnya, tak akan berperngaruh pada bekas luka atau sebuah penyakit seumur hidup.
“Yah... aku pikir dia mungkin bisa melakukannya? Memintanya secara pribadi mungkin akan lebih meyakinkannya.” (Arnold)
“.....hee, meskipun aku mendengarnya dari Yang Mulia, kau benar-benar menaruh banyak kepercayaan padanya~” (Shublarz)
Matanya tampak berkaca-kaca; Shublarz tampaknya telah menemukan sesuatu yang menarik.
“K-Kau mungkin akan mengatakannya seperti itu. Mengesampingkan sifat manusianya, aku percaya pada kekuatannya atau mungkin aku harus bilang kalau aku dipaksa untuk menempatkan kepercayaanku padanya...” (Arnold)
Pipi Arnold sedikit kaku ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Tentu saja, orang yang melihat sendiri sihir Hiiro akan dibuat untuk mempercayainya terhadap keingin tahuan mereka..... untuk seorang dengan eksistensi yang tak biasa
“Fufufu, selain itu, bisakah Hiiro benar-benar menyembuhkan bekas luka di wajah Ionis?” (Shublarz)
“Aku tidak yakin tentang itu tapi....” (Arnold)
“Hey.” (Hiiro)
“Eh? Uwa-! Hiroooooooooooo!?” (Arnold)
Tidak mengherankan Arnold akan terkejut. Karena Hiiro, orang yang dibicarakannya tiba-tiba berada di dekatnya.
“Kk-kenapa kau ada di sini?” (Arnold)
“Haa? Aku mendengar kalian menyebut namaku, itulah kenapa aku datang ke sini.” (Hiiro)
“Eh? Kami memanggilmu…” (Arnold)
Kemudian, Silva yang berada di belakang Hiiro, mencocokkan matanya dengan Hiiro dan tersenyum samar; dia memahami niat mereka,
“AH! Benar! Ya, itu benar! Jadi soal kenyataan ini, kami memiliki sebuah permintaan untukmu!” (Arnold)
“Permintaan? Di tempat seperti ini dan di waktu seperti sekarang?” (Hiiro)
Hiiro menatap Arnold dengan ragu sambil menyilangkan kedua tangannya.
“H-Hiiro!” (Muir)
Pada saat itu, Muir memanggil Hiiro.
“Hm? Apa Chibi? Jangan bilang itu adalah sesuatu yang dimana kau juga ikut terlibat di dalamnya?” (Hiiro)
“Eh, uhm, err…” (Muir)
Saat dia menatap mata Hiiro, untuk beberapa alasan, wajahnya memerah dan mengarahkan pandangannya ke bawah. Meskipun dia gelisah, tiba-tiba Muir mendongak.
“T-Tolong pulihkan wajah Io-chan!” (Muir)
“……..ha?” (Hiiro)
Walau Hiiro tiba-tiba ditanya, dia tidak yakin apa yang diinginkan Muir. Akan tetapi setelah mendengarkan ceritanya, tampaknya Muir ingin Hiiro untuk menyembuhkan bekas luka bakar.
“Aku mengerti, itulah kenapa kau memanggilku.” (Hiiro)
“U-um… bisakah Hiiro-san memulihkannya?” (Muir)
“Apa aku memiliki kewajiban untuk melakukan sesuatu seperti itu?” (Hiiro)
Karena itu adalah sebuah respon seperti yang diharapkan Muir, dia mulai mendesah.
“Hei Hiiro, kapan-kapan kau harus mempertimbangkan untuk membantu orang lain tanpa meminta kompensasi....” (Arnold)
“Diam kau setengah mayat! Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan melakukan sesuatu seperti itu?” (Hiiro)
“Gu... baiklah, baik aku mengerti... hei siapa yang kau panggil setengah mayat!” (Arnold)
Mengabaikan protes Arnold, Hiiro melihat Muir.
“Hei Chibi, kau tahu kalau Yo-Yo adalah musuhmu, ‘kan?” (Hiiro)
“Eh? Yo-Yo?” (Muir)
Tidak hanya Muir, tetapi juga Ionis menjulurkan lehernya dengan ekspresi bingung. Karena terlalu merepotkan untuk mengingat nama Ionis, Hiiro menggunakan tipe senjata miliknya KaiJin, yang menyerupai mainan yo-yo di dunia aslinya. Jadi dia mengunakan itu sebagai nama panggilan untuk Ionis.
“Yo-Yo….” (Ionis)
Ionis melihat senjata miliknya KaiJin yang dia pegang di tangannya.
“Mengesampingkan mainan itu. Jawab aku Chibi, dia adalah musuh, bukan?” (Hiiro)
"Ah, Y....... ya, tapi dia seorang teman." (Muir)
“Muir……” (Ionis)
Meskipun, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, dia sepertinya sangat terharu dan menatap Muir sambil menggumamkan sesuatu.
(Seorang teman....) (Ionis)
Muir tampaknya gadis yang manis namun naif. Tapi dengan melihat wajahnya, perasaannya yang sebenarnya bisa dipahami. Ionis kemudian menatap Muir dengan ekspresi jujur.
Hiiro mengalihkan pandangannya untuk melihat Ionis. Dia mungkin malu ketika Hiiro melihat ke arahnya dan mencoba menyembunyikan matanya menggunakan rambutnya.
“Menyenangkan, bukan? Aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” (Hiiro)
“Eh?” (Ionis)
Meskipun dia tidak yakin apa yang dimaksud Hiiro, sesuatu mencengkram hatinya.
“Yah, kurasa gadis-gadis memang selalu mengkhawatirkan tentang hal itu.” (Hiiro)
Ionis mengalihkan tatapannya dan memandang ke arah Muir.
“Bukan sebagai tanggung jawab, atau kepentingan pribadi, atau imbalan. Kau ingin aku membantunya sebagai teman kan?” (Hiiro)
“Ya!” (Muir)
Seolah-olah dia adalah seorang master yang memandang rendah seorang murid, dia menyilangkan tangannya dan menghela nafasnya.
“Bagaimanapun juga, kau tahu kan kalau aku bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu tanpa kompensasi semacam itu?” (Hiiro)
“eh, ah, ya….” (Muir)
Ketika Muir hendak menyerah, dia melihat ke arah Arnold untuk mendapatkan jawaban, lalu Hiiro berkata,
“Kalau begitu, kali ini, kau harus menyiapkan sesuatu yang lezat untukku makan.” (Hiiro)
“……Eh?” (Muir)
Mulutnya terbuka karena terkejut karena respons Hiiro.
“Dari apa yang aku dengar dari Aoi-ribbon, kaulah yang mengajari si pak tua itu cara memasak, ‘kan?” (Hiiro)
“Y-Ya.” (Muir)
“Jadi, buatkan aku sebuah masakan yang bisa membuatku puas. Itu adalah bayarannya.” (Hiiro)
Dia sedikit terkejut oleh respon Hiiro, tetapi pada akhirnya dia kembali seperti sedia kala dan berkata,
“Y, -ya! Aku akan melakukan yang terbaik untuk melayanimu!” (Muir)
Dia menjawab dengan senyuman yang terlihat di wajahnya.
“Oi-oi, Muir... kau tak memikirkan sesuatu yang lain kan...?” (Arnold)
Tidak ada yang mendengar Arnold ketika dia bergumam Tsukommi (menyindir). Ketika dia melihat senyum lebar Hiiro, meninju wajahnya adalah bentuk penghakiman ilahi, tapi dia menyimpan pikiran itu dan tindakan untuk dirinya sendiri.
“Jadi ayo cepat lakukan itu.” (Hiiro)
Hiiro memusatkan sihirnya ke jarinya. Sejumlah besar sihir difokuskan pada ujung jarinya; itu sangat besar sehingga membuat kelompok Shubluarz menjadi ketakutan.
Kemudian dia menulis sebuah kata 復元 | Restore dan mengarahkannya ke arah Ionis.
“Ah…” (Ionis)
Ketika Hiiro mendekati Ionis, dia mundur dalam ketakutan, tetapi Muir memeluk lengannya dan berkata dengan suara lembut.
"Jangan khawatir. Percayalah pada Hiiro-san” (Hiiro)
“Muir….” (Ionis)
Entah karena dia merasa tak nyaman atau karena dia tak ingin Hiiro melihat bekas lukanya yang terbakar yang ada diwajahnya, dia langsung memalingkan wajahnya.
Ketika Hiiro melihat sesuatu seperti itu, dia menghela nafas dan berkata,
“Hei, Yo-yo, ulurkan tanganmu.” (Hiiro)
“Eh? Ah……”(Ionis)
Tanpa banyak peringatan, Hiiro dengan cepat menggenggam tangannya. Meskipun Hiiro adalah seorang Pahlawan negara, berpegangan tangan dengan seorang lelaki untuk pertama kalinya menyebabkan jantung Ionis berdetak lebih cepat.  (TL/N : Cieee... Pasti akibat efek tittle Hiiro nih :v)
“Jangan terlalu tegang.” (Hiiro)
Meskipun Hiiro mengatakan sesuatu seperti itu, hatinya hanya berdetak lebih cepat. Tapi pada saat itu, Ionis merasakan sesuatu yang hangat mennyebar dari pusat tubuhnya.
“Ah…” (Ionis)
Itu mungkin berasal dari pertempuran sebelumnya, tapi sesuatu yang hangat mulai menyebar dari tangan dinginnya.
“...Ini hangat...” (Ionis)
Tanpa disadarinya, kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ketika dia mulai menyadarinya, ketakutan yang dia rasakan sebelumnya lenyap seperti hal itu hanyalah sebuah kebohongan.
Dia merasa seperti berdiri di bawah sinar matahari saat musim semi. Segera, dia mengerti kalau perasaan ini disebabkan oleh sihir Hiiro yang mengalir melalui tangannya.
(Kenapa? Kenapa kekuatan sihir orang ini begitu hangat........ bahkan terasa nyaman......) (Ionis)
Tanpa sadar dia mengangkat wajahnya dan menutup matanya dengan ekspresi tenang di wajahnya.
Kemudian, dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh dahinya. Dan kemudian, dia merasa tubuhnya menjadi panas. Itu sangat panas di antara keningnya.
sebenarnya, itu tidak terlalu panas. Bagian-bagian yang kurang panas secara perlahan menjadi lebih dingin; dan rasa nyeri di sekitar matanya berangsur berkurang.
Tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Satu menit, satu jam perasaan aneh masih bisa dirasakannya.
Lalu, dia mendengar suara di telinganya.
“Sudah selesai.” (Hiiro)
Dia secara perlahan mulai membuka matanya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar