Web Suka-Suka Translate Light Novel dan Web Novel

Sabtu, 30 Juni 2018

My Entire Class Was Summoned to Another World Except for Me Chapter 12 - Bahasa Indonesia


Chapter 12 – Mari Terbang!

Tampaknya, ada waktu dimana seseorang punya dorongan berlebihan untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya, itu adalah fakta yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun.
Adakalanya, keinginan untuk makan hidangan tertentu atau dorongan untuk melakukan perjalanan ke tempat tertentu yang jauh dari lokasi saat ini. Bagiku, Kamiya Yato, waktunya telah tiba.
“Aku ingin terbang.”
Aku tiba-tiba menyatakannya ketika aku membaca buku, “Skies Above our Head,” Karen yang duduk di lantai sambil membaca buku, mengubah ekspresinya. Dia menatapku, bingung dan nampaknya ingin tahu apa yang aku bicarakan.
“Kau kenapa? Kau baik-baik saja?”
Dia bertanya tentang apa yang aku maksud sambil memasang wajah bingung.
Sekarang, kurasa aku benar-benar lupa kalau Karen ada di ruangan ini juga. Kami saat ini mengambilnya dengan mudah di kamarku, saat kami sedang membaca buku.
Sejak hari itu ketika kami diserang oleh teroris, sekolah kami saat ini sedang terkunci sementara. Untuk Karen, ini hari Sabtu, jadi dia punya hari libur.
Hari ini, Karen membiarkan rambutnya terurai. Aku menyadari itu cocok untuknya. Untuk alasan dia membaca di kamarku, sebenarnya, aku sendiri tidak tahu. Dia menerobos masuk, hanya untuk bertanya apakah tidak apa-apa untuk membaca di sini. Sejujurnya, aku ingin bertanya alasannya, tapi aku tahu dia tidak akan menjawabnya. Tidak ada alasan bagiku menolaknya. Jadi aku membiarkannya.
“Aku hanya bergumam sendiri.”
Setelah mengatakan itu, aku berdiri dari tempat tidur, mengembalikan buku itu ke tempatnya semula dan berjalan ke arah koridor.
“Kamu mau keluar?”
“Ya, kau bisa tetap di sini jika kau mau.”
“...Begitukah, berhati-hatilah kalau begitu.”
Mata Karen berubah sedih dan dia dengan lemah menggenggam pinggiran roknya. Aku bisa tahu dia merasa putus asa. Apa terjadi sesuatu? Jangan bilang, kau merasa sedih karena tidak bisa tetap di sini bersamaku?!
…Tak mungkin. Apa yang aku bicarakan? Karen bukan dari tipe itu.
“Baiklah, aku pergi.”
Ucapku dan meninggalkan ruangan. Baiklah, ayo coba terbang sekarang.
ーーーーーーーーーーー
Aku menyelesaikan persiapanku dan menggunakan sihir teleportasi di dekat pintu masuk. Aku harus memilih tempat yang tepat jika aku ingin terbang.
Jika tidak, hal itu akan berubah menjadi sebuah kegemparan jika seseorang melihatku terbang di langit.
Itu sebabnya sekarang, aku berada di tengah padang pasir. Untuk alasan mengapa aku datang ke sini, aku tidak yakin karena aku juga masih bingung. Aku hanya memilih opsi yang membawaku ke suatu tempat tanpa orang dan akhirnya berakhir di sini.
Matahari panas dan awan pasir menyakiti mataku. Aku ingin mengubah lokasi, akan tetapi, sihir teleportasi jelas mengkonsumsi cukup banyak energi sihir. Jumlah yang digunakan berubah sebanding dengan jarak yang aku teleport. Melihat statusku saat ini, aku hanya dapat melakukan teleport ke seluruh dunia sebanyak 3 kali, tetapi ketika aku ingat bahwa aku harus kembali, aku jadi tidak bisa menggunakannya secara sembarangan.
Itu merepotkan, jadi aku memutuskan untuk tetap di sini. Aku mengaktifkan Presence Detection untuk berjaga-jaga dan memulai latihan terbangku.
Pertama, yang aku butuhkan untuk terbang adalah Wind Magic . Bahkan, ketika aku sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca buku, pada saat yang sama aku mencari cara untuk terbang. Saat itulah aku menemukan bahwa Wind Magic opsi terbaik untuk terbang.
Free Gen
Misalnya aku merampal sebuah mantra, lingkaran sihir hijau muncul di bawah kakiku dan hembusan angin bertiup ke atas. Aku mulai bangkit dari tanah, dan tubuhku mulai mengambang.
Oh aku mengambang!
Jantungku mulai menari dalam kegembiraan. Namun demikian, aku sampai sekarang tak tahu bagaimana rasanya terbang. Ini memberi kesan seolah-olah aku bisa berkeliaran ke mana saja sesuai dengan yang ku inginkan.
Ketika aku memahami perasaan menyenangkan itu, aku mencoba bergerak.
Uuum, Apa yang harus ku lakukan dulu? Berpikir tentang cara untuk berangkat, aku membayangkan gambar angin bertiup dari belakang. Hasilnya, tubuhku maju ke depan. Ohh! Begitulah cara kerjanya.
Sekarang aku sudah memahami konsep bergerak, sementara aku tetap mengambang. Jadi itulah artinya terbang, ya. Rasanya nyaman. Sensasi angin yang menyegarkan bertiup ke arahku adalah bagian yang terbaik. Aku merasa seperti aku telah berubah menjadi burung.
Saat aku sedang menikmati waktuku terbang, skill【Presence Detection】 mendeteksi seseorang di dekatku.
Seseorang di tempat seperti ini? Dan sendirian?
Fakta bahwa ada seseorang sendirian di padang pasir yang luas ini berarti satu hal. Maka, ku pikir aku harus memeriksanya untuk melihat apakah dia baik-baik saja.
Berpikir tentang itu, aku terbang. Aku mengarahkan diriku ke tempat di mana aku merasakan kehadirannya. Ketika dia muncul, aku dapat mengatakan bahwa orang itu tampaknya pingsan.
Tampaknya, Orang itu berusia kisaran lima puluh tahunan, mengenakan pakaian compang-camping dan ditambah janggut panjang.
Baiklah sekarang, bagaimana mungkin menemukan seseorang yang terlihat seperti seorang penjelajah di tengah padang pasir pada waktu ini? Belum lagi dia sendirian!
“Heeey, kau baik-baik saja?”
Aku bertanya ketika aku mendarat agak jauh dari pandangan orang itu.
“Uu… Kaun ho tum?” (TL/N : Bahasa India yang artinya “Siapa kau?”)
“Ah, permisi?”
Aku membungkuk.
Ini buruk. Apa yang orang ini katakan? Untuk seseorang sepertiku yang hanya bisa berbahasa Jepang, aku tidak tahu apa yang dia coba katakan. Setidaknya aku dapat menyimpulkan kalau itu bukan bahasa Inggris.
Apa yang harus dilakukan? Haruskah aku meninggalkannya seperti ini?
Aku akan melakukan sesuatu jika aku mengerti bahasanya, tetapi saat ini, aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bertindak. Karena dia tidak memberiku pilihan, aku berdiri.
“Ruko!? Kaun ho tum? Meri madat karo! Mujhe chor ke mat jao!” (Arti : “Tunggu!? Siapa kau? Tolong Aku! Jangan tinggalkan aku!”)
Mungkin karena dia mengira aku akan meninggalkannya, pria itu menempel di celanaku dan berusaha meminta bantuanku.
Tidak, tunggu, tunggu, aku tidak berencana meninggalkanmu di sini! Aku hanya ingin berdiri!
“Tung– berhenti menarikku seperti ini! Kau akan merobek celanaku.”
“Meri madat karo! Meri madat karo! (Arti : “Tolong aku! Tolong aku!”)
Meskipun, aku tidak yakin apa yang dia coba katakan, tetapi satu hal yang pasti bahwa dia meminta bantuanku.
“Aargh!! Baiklah! Aku akan melakukan sesuatu padamu!”
“Meri madat karo! Meri mada——-” (Arti : “Tolong aku! tolong—”)
Aku memindahkan pria yang lama-kelamaan mulai menjengkelkan itu ke kota terdekat. Sungguh, pria yang gigih. Celanaku tertutup pasir karenanya. Aku membersihkan pakaianku dan berpindah ke tempat yang berbeda kali ini.
Lokasi berikutnya adalah tempat yang tertutup oleh pepohonan, sebuah hutan.
Aku mengira di sini harusnya baik-baik saja. Sihirku banyak berkurang karena aku memindahkan orang yang selamat tadi. Aku harus menahan diri menggunakannya seperti itu.
Tanpa basa-basi lagi, aku mengaktifkan Wind Magic dan terbang di langit. Oh, ini luar biasa. Seluruh area ditutupi dengan warna hijau. Aku tetap mengagumi hutan hijau dari atas ketika tiba-tiba, aku mendengar seruan seekor burung.
Ketika aku menoleh ke arah suara, aku menyaksikan sekelompok burung terbang secara bersamaan ke arahku. Ah, ini tidak bagus.
Aku dengan cepat berpindah dari tempatku terbang, membiarkan segerombolan burung itu maju, namun kali ini, entah dari mana tombak datang terbang ke arah wajahku.
Uwaa, ini berbahaya!! Aku nyaris tidak sempat menghindarinya dan mulai menoleh ke belakang melihat tempat darimana datangnya serangan itu.
Aku mulai menyadari ada semacam suku berdiri di sana.
Tampaknya mereka merupakan penduduk asli tempat ini.
Ah, aku lupa mengaktifkan skill Presence Detection. Lain kali aku harus tetap waspada. Penduduk asli itu tampaknya kebingungan dan mulai berteriak padaku.
“¿noʎ ǝɹɐ oɥʍ!!” (T/N : Gak tahu kenapa dibalik, mungkin karena bicaranya pake bahasa pedalaman xD, Artinya : “Siapa Kau?”)
Permisi, apa? Sekali lagi, bahasa yang tidak dikenal datang ke telingaku. Kali ini apa lagi?
Kata-kata itu jelas berbeda dari yang digunakan orang yang selamat di gurun tadi, tapi aku masih tak memahaminya.
Apa yang harus kulakukan? Sekarang, mari coba katakan sesuatu.
“Aku tidak bermaksud menyakiti kalian!! Kalian bisa bersantai dan kembali ke rumah!!”
“˙uɐɔ noʎ ןןǝɥ ǝʞıן(Arti : “Pergilah ke neraka.”)
Meneriakkan kata-kata seperti itu pada mereka, para pribumi tampaknya tersinggung karena suatu alasan dan mulai melempar batu yang mereka pilih ke arahku.
Kenapa?! Kenapa kalian melakukan ini padaku?
Ketika aku menghindari lemparan mereka sembari bertanya-tanya tentang alasan mereka tersinggung, kali ini para pribumi mulai berteriak keras. Sepertinya mereka memanggil seseorang.
Tak lama kemudian, sekelompok orang dengan pakaian yang sama mulai berkumpul dengan cepat secara tiba-tiba.
Ketika mereka selesai berkumpul di salah satu tempat, salah seorang dari mereka menunjukku. Akibatnya, segerombolan orang lainnya berpaling menatap tajam ke arahku.
A... Aku punya firasat buruk tentang ini.
Tepat ketika aku mendapatkan firasat itu, seluruh kerumunan pribumi mengarahkan tombaknya ke arahku dan melemparkannya. Uwa, aku tahu mereka akan melakukannya. Katakan saja apa yang aku lakukan hingga menyinggung kalian!!
Aku mulai menyadari betapa tidak berartinya  mencoba memecahkan kesalahpahaman ini dengan berdialog dengan mereka sembari aku menghindari tombak mereka.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk melarikan diri. Lokasi yang ku tentukan saat ini adalah sebuah gunung bersalju di daerah terpencil. Masalah di gunung ini adalah badai salju yang mengerikan.
Aku tahu bahwa aku memilih tempat yang sepi sebagai pilihan, tetapi ini keterlaluan! Aku bisa mati membeku di sini!
“Ayo kita pulang.”
Aku mempertimbangkan bahwa tidak mungkin untuk melanjutkan pelatihanku pada tingkat keadaan ini, dan aku mulai menggunakan sihir teleport kembali ke rumah.
Setelah teleportasi di dekat pintu masuk rumah, Karen muncul dari ruang tamu.
“Apa yang terjadi? Bajumu penuh noda.”
“Yah, banyak hal terjadi...”
Aku mengalihkan pandangan ke pakaianku dan menemukan pakaianku tertutup oleh pasir gurun dan basah karena badai gunung salju. Aku yang merasa lelah, secara acak menghindari pertanyaan Karen dan pergi untuk mandi.
ーーーーーーーーーーーーーーーー
Malam harinya aku sedang duduk di ruang tamu menonton TV ketika tiba-tiba, berita aneh mulai disiarkan.
“Hari ini di India, jam 7 pagi, seorang arkeolog, Aryaman Chander Nagar Tayal yang menghilang di gurun India ditemukan di sebuah kota yang jauh. Saat kami mewawancarainya, dia mengklaim bahwa seorang bocah lelaki remaja yang telah membantunya.”
“Ara, berita aneh.”
“Ah ... ya, sangat aneh.”
Ketika aku berdiam diri tentang berita hari ini, aku berjanji dengan diriku sendiri. Sementara ayo kita berhenti terbang.



1 komentar: