Web Suka-Suka Translate Light Novel dan Web Novel

Kamis, 15 Agustus 2019

Her Royal Highness Seems to be Angry Volume 1 - Chapter 1 (Part I & II) Bahasa Indonesia

Chapter 1 : An Unknown World (Part I & II)


Hal pertama yang dilihatnya ketika dia membuka matanya adalah langit-langit yang tidak dikenalinya.

Dia melihat sekeliling, menemukan dirinya di ruangan yang tidak dikenal, berbaring di sebuah tempat tidur berkanopi yang tidak dikenalinya. ‘Di mana aku? Apakah aku tidak berhasil mengakhiri hidupku  setelah musuh merampas segalanya dariku?’ Pikiran Leticiel dalam kebingungan.

Dengan gelisah, dia duduk dan melihat dadanya. Tidak ada tanda-tanda luka dari pedang seperti dalam ingatannya. Satu-satunya hal di sana adalah daster putih berenda dan kulit halus miliknya.


Tapi Leticiel yakin itu telah terjadi. Perasaan ketika jiwanya sendiri memudar, dia masih bisa mengingatnya sampai sekarang. Leticiel sudah mati. Tak diragukan lagi, dia seharusnya sudah kehilangan nyawanya.

Tiba-tiba, skenario terburuk muncul di benaknya. Mungkinkah kerajaan tetangga memiliki seseorang yang cukup terampil untuk mengobati luka Leticiel. Dan mungkin saja, dia sekarang masih hidup di kerajaan tetangga.

Wajahnya menjadi sangat pucat. Jika dugaannya benar, Leticiel telah diselamatkan oleh musuh yang telah menghancurkan kerajaannya dan merebut semua yang berharga baginya.

Leticiel mengakhiri hidupnya sendiri agar semua ini tidak berjalan sesuai yang di rencankan kerajaan tetangga, sehingga dia bisa bersama orang-orang yang dia cintai. Namun, pada akhirnya semua berjalan sesuai dengan keinginan mereka.

Saat ini, emosi yang mengendalikan Leticiel bukanlah kesedihan atau keputusasaan, juga bukan kebencian. Itu adalah kemarahan yang besar terhadap kerajaan tetangga yang tidak membiarkan dirinya untuk mati.

Leticiel mendorong selimut dan bangkit dari tempat tidur. Kalau ini benar, kerajaan tetangga pastinya akan menggunakannya sebagai alat.

Kebanggaannya tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Meskipun akan mudah baginya untuk membalaskan dendamnya. Tetapi bahkan jika dia melakukannya, apa yang hilang darinya tidak akan pernah kembali; itu semua hanya akan menjadi usaha yang sia-sia.

Tentu saja, tempat ini berada di wilayah musuh; dia telah mencari apa saja untuk digunakan, tetapi tidak ada alat yang bisa dia gunakan untuk mengakhiri hidupnya.

Ketika dia mulai menjadi tidak sabar, beberapa botol kaca kecil di atas meja memasuki garis pandangnya. Tanpa ragu, Leticiel meraih salah satu botol dan melemparkannya ke lantai.

Botol hancur berkeping-keping akibat benturan. Mengabaikan kenyataan bahwa gelas itu bisa menggores tangannya, dia meraih pecahan besar dan mengarahkannya ke lehernya.

“Apa yang terjadi, Oj…”

Tepat ketika Leticiel hendak menggores lehernya, seorang pria muda berpakaian jas hitam memasuki ruangan. Dia sebelumya mendengar suara kaca pecah dan datang untuk memeriksa penyebabnya.

“…Apa!? Apa yang sedang anda lakukan!!?”

Begitu sosok Leticiel memasuki pandangannya, wajahnya berubah warna. Dia segera mengangkat suaranya dan berlari ke arahnya.

Berbeda dengan ruang tahta, ruangan ini cukup kecil. Sebelum pecahan kaca itu bisa menembus tenggorokan Leticiel, pria itu telah memegang tangan Leticiel dari belakang.

“Tolong hentikan!! Lepaskan benda itu di tangan anda sekarang!!”

“Biarkan aku pergi…! Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan sesuai keinginanmu! Jika kau menghentikanku, maka aku akan menggigit lidahku bahkan jika aku punya…”

“Tolong jangan bertindak begitu gegabah!! Ojou-sama!! Nona Drossel!!!”

Leticiel tiba-tiba berhenti ketika dia mendengar teriakan putus asa pria itu. Itu bukan karena periitah pria itu beresonansi dengan hatinya; itu karena nama yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

“…Nona…Drossel…?”

Siapa itu? Bukankah dia Leticiel, seorang putri kerajaan terpencil?

Pecahan kaca diambil darinya sementara dia masih kebingungan, tapi Leticiel tidak punya waktu untuk khawatir tentang itu.

Ketika dia menundukkan kepalanya ke bawah, rambutnya yang panjang mengalir dengan lembut ke ujung pandangannya; itu adalah warna putih keperakan–indah yang memberi kesan trasparan. Tapi itu warna yang asing baginya. Lagi pula, rambut Leticiel sebelumya berwarna pirang gelap.

Ketika dia mengangkat pandangannya, dia menemukan sebuah cermin kecil di depannya. Itu disandarkan di dinding tepat di sebelah botol-botol kecil tadi, tapi dia tidak menyadari benda itu sebelumnya.

Yang terpantul di cermin adalah wajah seorang gadis yang belum pernah dilihatnya. Rambut perak hampir transparan dan berkilau, kulit putih porselen halus, mata berbentuk almond dengan bulu mata panjang, dan iris heterokromatik di setiap matanya. (T/N : Heteromatik, adalah kelainan dimana warna iris mata kanan dan kiri berbeda.)

Secara keseluruhan, dia adalah seorang gadis cantik dengan penampilan wajah yang bermartabat. Leticiel tidak tahu berapa umur gadis itu; meskipun dia tampak masih muda, namun wajahnya terlihat lebih dewasa. Ditambah kurangnya ekspresi darinya memberinya kesan bahwa dia agak tidak  ramah.

(Siapa aku...?)

Ketika dia mencoba berkedip, kedua mata kirinya yang merah dan biru yang kanan tertutupi oleh kelopak matanya. Gadis yang terpantul di cermin itu tak diragukan adalah dirinyai.

Kenyataan itu mengguncang hati Leticiel. Leticiel sebelumnya memiliki rambut pirang keemasan. Kedua matanya berwarna lavender. Dan wajah masa lalunya memiliki sedikit jejak sifat kekanak-kanakan, dan tidak tampak dewasa seperti ini.

Meskipun dia menikam dirinya dengan pedang dan kehilangan nyawanya, ketika dia sadar, tidak ada satupun luka di tubuhnya. Dan ketika dia mengira dia telah ditangkap oleh musuh, dia malah menjadi seseorang yang tak dikenalnya.

(Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah aku berada di dalam mimpi atau semacamnya…?)

Leticiel yang linglung dituntun ke tempat tidurnya oleh para pelayan. Mereka kemudian mengambil kotak pengobatan dan mulai mengobatinya.

Tangannya terluka karana dia gunakan untuk mengenggam pecahan kaca. Leticiel menatap pelayan yang mensterilkan dan mengobati luka-lukanya dengan heran.

“…Kenapa kau tidak menggunakan Magecraft untuk menyembuhkannya?”

“Magecraft…? Um, apakah anda berbicara tentang Sihir?”

Pertanyaannya bertemu dengan pertanyaan lain. Sekali lagi, dia mendengar sebuah kata yang tidak dia ketahui. Mungkinkah negara ini menggunakan kata “Sihir” untuk merujuk pada Magecraft.

“Lagipula, Ojou-sama, hanya sebagian kecil orang-orang terpilih yang dapat menggunakan Sihir Penyembuhan dari Elemen Cahaya.”

“Haa….”

“Itu sebabnya menggunakan sihir untuk menyembuhkan luka tidak bisa dilakukan pada saat itu juga.”

Dia belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Setidaknya ketika dia masih seorang putri, hampir setiap orang yang bisa menggunakan Magecraft dapat menggunakan Healing Magecraft. Itu adalah zaman di mana seseorang akan kehilangan nyawanya jika mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri.

Setelah menyelesaikan perawatan Leticiel, pelayan itu merapikan kotak pengobatan dan menghilang ke pintu lain di ruangan itu.

Leticiel menatap tangannya yang dibalut perban. Meskipun pelayan itu mengatakan bahwa Sihir Penyembuhan sangatlah langka, Leticiel yakin bahwa dia bisa menggunakan sihir itu sebelumnya. Dia memanggil Magecraft-nya untuk memastikan apakah dia benar-benar bisa menggunakannya.

Tak butuh waktu lama, Mana mulai bertebaran di atmosfer dan dengan patuh mengikuti kehendaknya, dan mulai berkumpul di tangannya. Aliran Mana menciptakan angin yang menyebabkan rambut peraknya berayun dengan lembut.

(…Huh… Sepertinya aku masih bisa menggunakannya seperti biasa.)

Dia telah mempersiapkan dirinya untuk situasi terburuknya.

Kemudian Leticia mencoba membuka dan menutup tangannya; rasa sakit dari sebelumnya telah menghilang. Seperti yang dia pikirkan, tidak mungkin penyembuhan menggunakan Magecraft itu langka.

Sementara dia memikirkan hal itu, beberapa pelayan keluar dari pintu dan membungkuk hormat.

“Ojou-sama, kami akan membantu Anda bersiap-siap, jadi silakan ke sini.”

Pelayan itu membawa Leticiel ke sebuah ruangan… Bukan, itu sebuah bilik di ruangan sebelah. Ada beberapa pelayan yang menunggu disana untuk membantunya.

Ketika dia seorang putri, Leticiel harus melakukan semuanya sendirian. Anggota kerajaan tidak memiliki kemewahan seperti ini di zaman kekacauan itu.

Jika mereka punya uang untuk menyewa pelayan, itu hanya akan digunakan untuk meningkatkan persenjataan. Dan jika mereka punya uang untuk membeli banyak gaun, maka mereka akan menginvestasikannya ke dalam persenjataan. Hal itulah yang paling penting saat itu, sampai ke titik di mana bendera negara harus menunjukkan bahwa itu dijalankan oleh penghasut perang. Jika suatu negara gagal melakukannya, negara itu akan ditelan oleh negara-negara yang berada sekitarnya.

Hasilnya, dia tidak pernah memiliki pelayan untuk membantunya, atau bilik lemari dengan sejumlah besar gaun. Leticiel tanpa sadar menarik pipinya.

Dia mulai khawatir tentang keadaan negara ini yang memiliki tingkat kemewahan seprti ini. Sebagai seorang putri di dunia yang dipenuhi peperangan, Leticiel sama sekali tidak bisa mempercayai pemandangan yang dilihatnya sekarang.

“Itu sangat cocok untuk anda, Ojou–sama.”

“…Terima kasih.”

Leticiel keluar dari bilik lemari sambil merasakan perbedaannya. Dia mengenakan gaun berwarna krem ​​yang indah dan dihiasi dengan aksesoris yang terlihat anggun.

“Hei kau yang disana.”

“…Iya? Apakah anda memanggil saya?”

“Ya itu benar. Tidak ada orang lain di sini, kan. Siapa kau? Apa urusanmu denganku?”

Leticiel bertanya pada pria yang berdiri di sebelah pintu. Dia adalah orang yang sebelumnya menghentikannya saat ia ingin mengakhiri hidupnya.

Leticia hanya memiliki sedikit informasi tentang keadannya saat ini, sehingga bisa dikatakan bahwa dia sama sekali tidak memahami situasinya sekarang. dia tidak tahu siapa pria itu atau apakah dia pengasuhnya, dan, tentu saja, dia juga tidak tahu namanya.

“Um ... Apa maksud anda? Ojou–sama?”

“Oh, kadang-kadang kau pasti merasa ingin mengajukan pertanyaan aneh seperti ini juga, kan?”

“Y-Ya… Nama saya Ruvik, Butler pribadi Ojou–sama.”

Meskipun wajahnya tampaknya mengatakan bahwa dia tidak memikirkan apa yang sedang terjadi, pria itu masih memberinya pengenalan diri yang tepat.

“Ruvik ... benar, benar. Maaf, karena suatu alasan tiba-tiba aku melupakan namamu.”

Leticiel masih belum memahami situasi dengan benar, namun, lebih baik baginya untuk bersikap seperti 'Drossel'.

Meskipun dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh, Ruvik tampaknya terkejut dengan jawabannya. Mengabaikannya, Leticiel mencoba meraih gagang pintu. Sementara dia masih bingung dengan situasinya saat ini, tubuhnya mengingatkannya bahwa dia lapar, jadi dia memutuskan untuk sarapan atau semacamnya di ruang makan.

Namun, dia tiba-tiba dihentikan oleh Ruvik. Leticiel kemudian menatapnya seolah bertanya kenapa.

“Ojou–sama, tangan anda terluka. Tolong serahkan pada saya.”

Meskipun tak akan ada masalah karena dia sudah menyembuhkannya, Leticiel merasa lebih baik tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu, dan menarik tangannya.

Ketika Leticiel melewati pintu yang dibukakan oleh Ruvik, dia disambut dengan kemegahan yang mirip dengan ruangan yang membuatnya berjalan terhuyung–huyung karena sinarnya.

“Ojou–sama…? Apakah ada yang salah?”

“...Negara dengan kemewahan seperti ini, aku kagum bahwa belum ada yang berusaha untuk merebutnya…”

“Hah…? Apa yang anda bicarakan, Ojou-sama? Kerajaan Platina sekarang dalam keadaan damai…”

Mata Leticiel terbuka lebar mendengar kata-kata Ruvik. Tidak ada kedamaian di zaman peperangan yang tak ada henti-hentinya.

Selain itu, kata lain yang tidak dikenal muncul lagi. Dia belum pernah mendengar nama Kerajaan Platina sebelumnya. Dia membandingkannya dengan nama-nama semua negara yang dia kenal, tetapi tidak dapat menemukan kecocokannya.

(…Ya, di dunia itu, itu adalah kejadian sehari-hari bagi suatu negara yang tidak dikenal untuk muncul, dan pada saat kamu mempelajarinya, itu akan menuju kehancuran.)

Leticiel berasumsi bahwa negara ini juga dilahirkan seperti itu, dan berhenti memperhatikan detailnya.

Leticiel berjalan menyusuri lorong panjang dengan Ruvik di sisinya. Di perjalanan, dia menemukan seorang pelayan tua dengan keranjang berisi cucian berjalan ke arah yang berlawanan. Ketika mata mereka bertemu, pelayan itu sedikit menundukkan kepalanya, tetapi dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan kerutannya.

Kemungkinan Leticiel… atau lebih tepatnya, Drossel… dibenci oleh pelayan itu. Leticiel menyadari hal ini, tetapi dia terus berjalan seolah itu tidak terjadi.

Sebagai seseorang yang telah merasakan keputus-asaan yang mendalam, dan melangkah lebih jauh dengan mengakhiri nyawanya sendiri, Leticiel tidak bisa lagi menganggap perasaan negatif terhadapnya sebagai hal yang sepele.

Sederhananya, dia bersikap bijaksana. Terus terang, dia sama sekali tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain. Leticiel yang tadinya ceria telah menghilang; gadis saat ini benar-benar dingin dengan sikap yang acuh tak acuh. Mungkin sifat manusia bisa berubah sepenuhnya ketika dihadapkan pada situasi yang sedemikian ekstrem, Leticiel merenung pada dirinya sendiri, seolah dia sedang memikirkan orang lain.

Sementara dia berjalan dengan anggunnya di koridor, Leticiel tiba-tiba berhenti ketika tidak ada orang lain di sekitarnya. Tentu saja, Butler yang telah berjalan sedikit di belakang sisi tuannya berhenti juga, dan membuat wajah bingung.

“... Katakan, Ruvik.”

“Ya, apa itu, Ojou-sama?”

“…Di mana… ruang makannya…?”

“Jadi dari tadi anda berkeliaran tanpa tujuan!?”

Pada pagi itu, suara histeris Ruvik bergema di seluruh kediaman.

* * *

Dengan Ruvik yang membimbingnya, Leticiel akhirnya tiba di ruang makan. Tampaknya kediaman ini adalah bangunan bertingkat dua dan ruang makan berada di lantai pertama. Kamar Leticiel berada di ruangan paling jauh di lantai dua.

Ketika dia memasuki ruang makan, tatapan tajam orang-orang yang ada disana menusuk ke arah Leticiel.

Keempat orang yang berada di ruangan itu pastilah anggota keluarga Drossel.

Pria berambut perak, bermata biru yang duduk di ujung meja tampaknya adalah ayahnya. Wanita dengan rambut merah dan mata ungu yang duduk di sebelah kanannya pastinya ibunya. Di seberang ibunya adalah kakaknya, yang memiliki rambut perak dan mata ungu muda. Dan di sebelahnya ada seorang gadis yang usianya hampir seumuran dengan Leticiel.

Tentu saja hubungan itu semua hanya dugaan berdasarkan penampilan luarnya dan bisa saja salah. Namun, itu semua akan jelas cepat atau lambat.

Kursi Leticiel adalah yang terdekat dengan pintu masuk. Meskipun ada enam kursi di kedua sisi meja, tidak ada yang menghadapnya. Dia jelas duduk sendirian.

Dari segi posisi, kursinya adalah kursi terendah. Seharusnya hal itu dianggap sebagai penghinaan yang kejam, tetapi untuk Leticiel saat ini…

(Ya ampun, berada dekat dengan pintu masuk, betapa nyamannya..)

Sikapnya telah berubah ke titik bahwa ia lebih suka memiliki toko di samping rumahnya demi kenyamanannya. Sesuatu seperti posisi duduk tidak akan menjadi masalah untuknya.

“…Hm? Diane, apa yang terjadi pada Sareenah?”

Pria yang tampaknya adalah ayahnya yang duduk di ujung meja bertanya kepada wanita yang tampaknya adalah ibunya… Diane.

"Sangat aneh bagi gadis itu untuk tidak berada di sini sekarang. Fried, apakah kau tahu mengapa?"
"Tidak, tidak sama sekali."

Ketika ditanya oleh Diane, pemuda berambut perak bernama Fried mengutarakan jawaban singkat sambil menutup matanya.

"Um, Ibu. Kak Saree bilang dia sibuk dengan persiapan keberangkatannya, jadi dia akan sarapan di kamarnya sendiri."

Gadis lain di meja mengangkat tangannya dan dengan malu-malu membuka mulutnya.

Dia memiliki rambut pirang dengan rona merah, dan mata ungu muda bulat besarnya mengalir dengan jenis keimutan yang akan membangkitkan insting sesorang untuk melindunginya.

"Ya ampun, sekarang kau sudah mengatakannya. Hari ini adalah hari Saree akan pergi ke wilayah keluarga tunangannya. Terima kasih banyak, ibu sangat menghargainya.”

"Tidak ... itu bukan apa-apa, bu."

Sang ibu memuji putrinya yang tampak malu-malu dan terlihat senang. Di ruang makan ini diterangi oleh sinar matahari pagi, sebuah lukisan keluarga harmonis yang benar-benar indah.

(... Kita masih belum mulai sarapannya? Aku benar-benar lapar.)

Seperti yang diduga, Leticiel tidak tertarik pada adegan keluarga yang bahagia itu dan sedang memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan.

Baginya, tidak ada konsep menunggu setiap anggota keluarga untuk memulai makan. Ketika dia adalah seorang putri, itu normal bagi semua orang yang hadir pada waktu makan untuk mulai makan; sikap ‘jika kau ingin menunggu, maka tunggulah’.

Meskipun tidak semua hadir, sambutan sang ayah mendorong dimulainya sarapan yang sudah lama dinantinya. Keempat orang yang duduk di sisi lain meja memulai waktu keluarga yang harmonis sambil makan. Para pelayan yang menunggu di belakang mereka kadang-kadang bergabung dalam percakapan.

Sementara hal itu terjadi, ada satu orang diam-diam memindahkan makanan ke mulutnya. Orang itu adalah Leticiel.

Leticiel menatap penuh perhatian pada hidangan sarapan yang berbaris di depan matanya. Roti berbentuk bulan sabit yang aneh, potongan daging yang tebal… dia setidaknya bisa mengenali itu. Namun, dia tidak tahu tentang benda kekuningan yang dihidangkan bersamaan dengan keduanya.

Dalam benaknya, dia hanya bisa menganggap roti sebagai sesuatu yang bulat dengan tekstur halus tetapi agak kering. Belum lagi itu adalah barang mewah di negara asalnya.

"Ruvik, sebenarnya roti aneh apa ini?"

"Aneh… Itu hanya croissant istimewa, Ojou–sama."

"Oh. Lalu apa benda kuning berair ini?”

"B-Benda kuning… Itu hanya telur orak-arik, Ojou–sama."

"Aku mengerti. Ah, jangan terlalu memikirkannya. Aku hanya ingin menanyakan itu padamu.”

Leticiel memberikan alasan yang seenaknya dan mengakhiri pembicaraan dengan Ruvik, yang terkejut oleh pertanyaan-pertanyaannya yang acuh tak acuh diluar akal sehat.

Jika dia harus jujur, Ruvik akan menggambarkan tuannya, Drossel, sebagai orang yang selalu muram. Ketika dia marah tanpa alasan yang jelas, dia akan menyerang pelayannya. Ketika dia menangis, dia akan meminta mereka untuk memanjakannya. Sebagai orang yang telah melayaninya sebagai Butler pribadi selama bertahun-tahun, Ruvik paling memahami Drossel.

Akan tetapi, bahkan jika dia adalah orang yang selalu muram, dia telah bersikap sangat aneh seperti hari ini. Ketika adegan usahanya yang menyangkut kehidupan Dorssel muncul di benaknya, seolah-olah bola lampu meledak di kepalanya; Ruvik menyadari bahwa ucapan dan perilakunya telah benar-benar berubah. Dia merasa bahwa dia telah menjadi dingin dan mulai melakukan segalanya dengan langkahnya sendiri.

Ruvik tidak tahu mengapa kata-kata dan sikap Drossel tiba-tiba menjadi tidak bisa dipahaminya. Mungkin saja dia berbuat aneh karena perlakuan keras yang dia terima dari lingkungannya?

"Ruvik, dari mana bacon ini berasal?"

"Karena Tuan bilang menyukainya, kami membeli dan menyimpannya dari pedagang selatan yang berkunjung ke wilayah kita."

"Hmmm… aku tidak bisa melupakan kekenyalan ini. Rasanya normal seperti yang ku kira.”

"…Hah? Nooor… m-mal…?"

"Benar. Kupikir daging dengan lemak tembus seperti ini sangat lezat…”

"Menurut anda…"

"Aku belum pernah memakannya sebelumnya."

Pada masa itu, makan daging dalam makanan sudah terlalu mewah. Selain anggota kerajaan, setiap orang akan puas hanya dengan memakan daging setiap tiga hari sekali. Daging asap berkualitas tinggi adalah sesuatu yang hanya ada dalam mimpi.

Sambil mengingat itu, Leticiel mengisi mulutnya dengan bacon yang diiris tebal.

Menyelesaikan sarapannya dalam sekejap, Leticiel segera menarik diri dari ruang makan. Dia kembali ke kamarnya dan berebahan di tempat tidur sembari menatap langit-langit.

Terlalu banyak kejadian tak terduga hari ini. Meskipun dia mengikuti alur dan berhasil melewatinya, dia perlu hati-hati memilah-milah semua informasi yang ada.

Pertama, Leticiel adalah seorang putri, putri dari kerajaan kecil di dunia yang dipenuhi peperangan. Kemudian, dia kehilangan segalanya karena invasi negara tetangga. Tanpa punya alasan untuk hidup lagi, ia mengakhiri nyawanya sendiri.

Namun, untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, Leticiel telah diberikan kehidupan baru sebagai gadis asing bernama Drossel. Gadis itu tampaknya adalah putri dari keluarga yang statusnya sangat tinggi.

Leticiel adalah seorang realis. Dia tidak mengatakan atau percaya pada hal-hal supranatural yang tidak berdasar; Namun, saat ini tidak mungkin baginya untuk menyangkalnya.

(... Sepertinya aku telah dipindahkan.)

Metempsikosis. Konsep perpindahan jiwa ke tubuh lain setelah kematian.

Di dunia yang kejam itu, konsep keselamatan ini disambut dengan sembarangan. Dan dengan slogan itu, orang-orang bersatu untuk menciptakan agama baru. Tentu saja, Leticiel tidak percaya akan hal itu, tetapi dengan situasinya saat ini, itulah satu-satunya penjelasan yang tepat.

Adapun keluarga Drossel, kurang lebih terdiri dari orang tuanya, pasangan yang tampaknya saudara kandungnya dan yang lainnya, baik itu kakak perempuan atau adiknya. Namun, tampaknya mereka semua tidak menyukai Drossel.

Dari semua orang, hanya dua yang belum dia konfirmasikan namanya adalah nama ayah dan saudara perempuan yang tidak dikenalnya itu. Di luar itu, satu-satunya nama lain yang dia tahu adalah Butler pribadinya, Ruvik.

Selain itu, Leticiel saat ini berada di sebuah negara bernama Kerajaan Platina, yang tampaknya sangat damai. Dari pendangan ‘Princess of War’, itu adalah sesuatu yang akan membuat matanya terbuka lebar sambil memikirkannya sebagai semacam lelucon. Tetapi setelah mengamati situasi tempat tinggal ini, itu benar-benar kebenarannya.

Bagi Leticiel, itu akan menjadi hal biasa untuk setidaknya tiga laporan yang berkaitan dengan perselisihan yang disampaikan selama sarapan. Selain itu, makanan yang diracuni adalah hal yang biasa sehingga pencicip racun sangat diperlukan.

Di atas semuanya, kehidupan mewah dan kemewahan mereka menunjukkan bahwa keluarga ini memiliki terlalu banyak uang. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghabiskan uang untuk persenjataan untuk memperkuat kekuatan mereka. Kesimpulannya, negara ini tidak dalam situasi di mana mereka harus menghabiskan segalanya untuk persenjataan untuk bisa bertahan hidup.

(…Sudah berapa lama berlalu sejak masa itu?)

Leticiel menyimpulkan bahwa periode waktu ini sama sekali berbeda dengan periode yang dulu ia jalani. Tetapi, satu-satunya cara untuk mengetahui kapan periode itu berakhir dan sudah berapa tahun yang berlalu sejak saat itu adalah melalui buku-buku sejarah.

Ketika Leticiel berpikir tentang pergi ke ruang penyimpanan dokumen atau sesuatu semacamnya, refleks ia bangun saat dia mendengar ketukan dari luar ruangan. Setelah mendapatkan izinnya, Ruvik memasuki ruangan.

"Apa itu?"

"Ojou-sama, sudah waktunya bagi anda untuk berangkat ke akademi."

Leticiel menatap kosong pada Ruvik dengan pernyataannya itu. Akademi… sebuah kata yang mengacu pada taman kuno. Itu harusnya menjadi tempat untuk mempelajari sesuatu.

"Akademi…?"

"Hah? Ya… Akademi."

“…”

“…Ojou-sama… Apakah anda benar-benar baik-baik saja?”

"Kenapa kau sangat mengkhawatirkanku?"

Kata-katanya, 'karena anda telah bertingkah aneh sejak pagi tadi,' naik ke tenggorokan Ruvik, tetapi karena kehendaknya yang luar biasa, kata-kata itu terperangkap di sana.

Di Kerajaan Platina, pendidikan di akademi adalah hal yang wajib bagi pewaris dan putri bangsawan ketika mereka berusia 16 tahun. Tidak terkecuali bagi Drossel, yang telah berusia 16 tahun tahun ini; Upacara masuk untuk Akademi Lucrezia diadakan sekitar sebulan yang lalu.

Ini adalah hal yang wajar bagi semua orang di kerajaan ini, mengapa dia terlihat sangat bingung? Ruvik, yang telah memohon belas kasihan sejak pagi, secara bertahap mulai merasakan sakit yang menusuk di perutnya.

Tidak menyadari rasa sakitnya, Leticiel mulai berpikir tentang tempat yang disebut "Akademi."

Pada masanya, hal yang disebut akademi itu tidak ada. Pengetahuan adalah sesuatu yang diturunkan dari generasi ke generasi dari mulut ke mulut. Tidak perlu meminta orang asing untuk mengajarimu.

Jika itu tentang sejarah, kau hanya perlu bertanya kepada kakek-nenekmu, dan mereka akan memberi tahumu sebanyak yang kau inginkan. Jika itu cara menggunakan Magecraft, kau hanya perlu meminta orang dewasa yang memiliki lebih banyak pengalaman untuk menerangkannya, dan kau akan dapat menggunakannya dalam sekejap mata. Bahkan tentang etika, membaca, menulis, matematika, semuanya hanya seperti itu.

Atau lebih tepatnya, membangun sekolah dan mengumpulkan masa depan negaramu di satu tempat akan sama dengan memberi tahu musuhmu, 'tolong bunuh mereka'.

Mengapa negara ini memiliki akademi? Mungkinkah cara menyampaikan informasi secara lisan melalui keluargamu bukanlah kebiasaan umum di negara ini. Bukankah tidak efisien jika orang asing mengajarkanmu hal-hal ketika kau bisa bertanya kepada kerabatmu saja…? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang mengalir di kepala Leticiel, faktanya dia harus tetap pergi ke akademi.

"Yah, baiklah. Akademi,kan, aku mengerti."

"…Uh… Mohon tunggu sebentar, Ojou-sama!"

Ketika dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu, sekali lagi Ruvik menghentikan Leticiel.

"Sekarang apa lagi?"

"T-Tidak… Ojou-sama, seragam adalah hal yang wajib di akademi jadi anda perlu ganti…"

"Oh… benar…"

“Juga, apakah anda tidak akan membawa tas...? Anda akan berada dalam masalah jika anda tak membawa buku tulis."

"…Tas…"

Leticiel menatap Ruvik, yang membuat ekspresi kasar karena suatu alasan.

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan itu, dan pada akhirnya, Leticiel menurunkan pandangannya dan mulai melihat sekeliling ruangan.

Di sesuatu yang tampak seperti meja, ada tas dengan tali bahu yang terbuat dari kulit berkualitas tinggi. Rasa kemewahan yang tak berguna lagi... Tunggu, jadi 'tas' seharusnya mengacu pada hal itu, tapi…

"…Seragam?"

"Ojou-sama… apakah anda tidak memakainya sejak kemarin…?"

Tatapan Ruvik menunjuk ke keranjang di sebelah pintu masuk bilik lemari. Beberapa pakaian terlipat rapi di dalam keranjang.

Jaket pendek hitam, kemeja putih dengan dua potongan di bagian atas kemeja, dan rok kotak-kotak. Di sebelah keranjang itu ada sepasang sepatu bot bertali warna cokelat. Mungkin semua itu dimaksudkan untuk dipakai bersamaan.

(...Benda hitam apa ini, yang terlihat seperti celana?)

Ada hal-hal seperti pita dan lencana yang ditempatkan di dalam keranjang di samping jaket dan kemeja, dan di antara keduanya ada sebuah pakaian yang membuatnya penasaran. Bentuknya mirip dengan celana, tetapi kainnya terlalu tipis dan ukurannya terlalu kecil.

Tanpa memikirkan mengapa Ruvik membuat wajah bingung, Leticiel memutuskan untuk masuk ke bilik lemari untuk menganti pakaiananya.

Mengesampingkan benda seperti celana yang fungsinya tidak diketahuinya, Leticiel mengenakan apa yang disebut dengan seragam. Setelah dia selesai berganti, dia segera kembali ke kamarnya dan menatap dengan penuh perhatian pada benda yang tidak diketahuinya yang disebut sebagai 'tas'. Dia kemudian mengambilnya dan keluar dari kamarnya seolah-olah tidak ada yang terjadi.

"Baiklah kalau begitu… Ruvik."

“…Ya…"

"Ke mana arah pintu masuk?"

"Ojou-sama! Apa anda serius!?”

Leticiel memiringkan kepalanya sambil menatap Ruvik, yang memegangi kepalanya. Dia sudah banyak berteriak sejak pagi ini, mungkinkah dia suka meninggikan suaranya?

Meskipun pagi itu menyegarkan, Ruvik tampak lesu, seolah-olah dia belum tidur selama seminggu penuh, saat dia membimbing Leticiel ke pintu masuk.

Tepat di balik pintu ada tiga kereta kuda yang berhenti di depan pintu masuk. Dan di depan mereka ada gadis dari ruang makan, yang sedang mengobrol ramah dengan wanita berambut perak lainnya.

"…Ah! Kak Drossel, selamat pagi.”

Ketika dia memperhatikan sosok Drossel, gadis berambut merah menyambutnya dengan senyuman yang indah dan seterang bunga yang tengah mekar. Melalui sapaannya, Leticiel membenarkan bahwa gadis itu adalah adik perempuannya di dunia ini.

"…Oh, ini hampir terlambat. Christa, aku akan pergi sekarang. Kau harus segera berangkat atau kau akan terlambat ke akademi."

"Baiklah. Selamat jalan, Kak Saree.”

Christa juga menyebut wanita itu sebagai kakak perempuannya, yang berarti orang ini juga kakak perempuan Drossel.

Membandingkan perlakuannya terhadap Christa, Sareenah hanya melirik Leticiel sekilas tanpa minat sebelum naik ke atas kereta. Sambil menatap kereta yang berangkat, Leticiel menduga bahwa orang ini juga tidak menyukainya, tetapi pada akhirnya, dia memutuskan bahwa itu tidak layak untuk diperhatikan.

Leticiel naik sendirian… atau lebih tepatnya, kereta Christa tidak digunakan, dan keduanya diantar oleh Ruvik.

"Jaga diri anda, dan selamat jalan."

Untuk sesaat, Leticiel melihat kembali ke sosok Ruvik yang mengantar keberangkatan merekai, tetapi begitu kereta telah meninggalkan pekarangan kediaman, dia meletakkan dagunya di tangannya dan menatap ke luar jendela.

Di sisi lain jendela ada pemandangan kota yang ramai di pagi hari. Jalan-jalan dipenuhi wanita yang berbelanja kebutuhan sehari-hari, sementara toko-toko di sepanjang jalan mulai buka untuk melakukan bisnis. Di sisi-sisi jalan, sosok-sosok pria yang berdiri juga bisa terlihat. Kota itu terbangun di bawah matahari pagi.

Kota indah yang belum pernah mengalami perang, dipenuhi dengan wajah-wajah lembut yang tidak tertarik pada konflik. Negara ini benar-benar damai.

(…Sekarang aku mengingatnya, bukankah aku berharap untuk kehidupan yang lebih nyaman sebelum aku mati?)

Dia tidak tahu mengapa dia berpindah, tetapi dia yakin bahwa para dewa telah mengabulkan keinginannya. Leticiel menyimpulkan keadaannya dengan optimis

Tiba-tiba, keretanya bergetar hebat. Suara benturan bernada tinggi terdengar saat kereta berhenti. Leticiel yang bingung turun dari kereta, bertanya-tanya apa yang terjadi. Dia menemukan si kusir berjongkok melihat roda yang terjebak di selokan lumpur di samping jalan beraspal.

"Apa yang terjadi?"

"…Ah, Ojou-sama… Um, sepertinya rodanya rusak…"

Kusir itu terbata-bata ketika dia memberikan jawabannya. Dia tampak ketakutan ketika melihat Leticiel, mungkin ia takut akan amarahnya.

"Astaga. Kalau begitu, biarkan aku melihatnya sebentar."

Leticiel memberi isyarat kepada kusir itu untuk mundur ketika dia mengatakannya dan menyentuh roda untuk memeriksa kerusakan. Kayu rodanya retak saat melewatinya.

“Kak Drossel? Ada apa?"

Kereta yang berjalan di sebelah Leticiel berhenti, dan Christa mengintip keluar jendela dengan ekspresi ingin tahu di wajahnya.

“Ini hanya masalah kecil dengan rodanya. Aku akan menyusul setelah ini diperbaiki, jadi kau bisa pergi duluan."

"Benarkah? Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di akademi."

Christa dengan cemas menatap Leticiel, tetapi pada akhirnya dia mengangguk kecil dan memerintahkan kusirnya untuk melanjutkan perjalanan. Suara cambuk terdengar ketika kereta Christa mulai pergi menjauh.

"Ojou, Ojou-sama! Saya, saya akan kembali ke kediaman sekaligus untuk menghubungi…"

"Itu tidak perlu."

Menghentikan kusir yang sudah mulai berjalan, Leticiel mengarahkan tangan kanannya ke atas roda yang rusak.

Cahaya berbagai warna mulai menyatu di telapak tangannya. Hijau muda, emas, dan perak, cahaya bercampur menjadi satu dan menembus roda. Dan kemudian, gelombang cahaya menyebar melalui kereta, bahkan mencapai kuda.

Setelah cahaya menghilang, rodanya kembali seperti sedia kala sebelum rusak.

“…Hah?…huh?”

“Tidak akan ada masalah dengan ini. Kalau begitu, bisakah kamu menuju akademi?”

Dengan kata-kata itu, Leticiel segera kembali naik ke atas kereta.

"Hah? Er, ah, ya, mengerti. "

Tertinggal di belakang, si kusir yang tak mempercayainya hanya bisa menatap bolak-balik di antara roda dan pintu yang tertutup. Namun, karena dia tidak mampu membiarkan putri keluarga yang dia layani terlambat, maka dia dengan enggan kembali ke kursi kemudi.

Dengan ayunan cambuk si kusir, kereta mulai bergerak. Namun, sekarang roda itu berputar lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Lagipula itu hal yang wajar. Ketika dia memperbaiki roda, Leticiel juga menggunakan Strengthening Magecraft pada kereta dan kudanya. Itu sebabnya Magecraft sebelumnya memiliki beberapa warna cahaya yang menyatu.

Kereta yang diperkuat Magecraft dengan cepatnya melaju melewati jalan utama. Kereta itu bahkan menyusul Christa sebelum meninggalkannya di belakang.

"…Apa? Apa??"

Kusir Christa tidak bisa mempercayai pemandangan kereta yang bergerak dua kali lebih cepat dibandingkan kereta biasa. Tercengang, dia menggosok matanya hingga tidak terlihat.

* * *



2 komentar: